Menjadi seorang dokter adalah sebuah tugas mulia.
Sebab, melewati tangan seorang dokter kadang nyawa seseorang dapat terselamatkan.
Tidak hanya itu, dokter pulalah yang seolah menjadi pintu bagi kelahiran bayi-bayi baru.
Sayang, kadang ada sejumlah orang yang tak lebih mengang menghargai jasa seorang dokter.
Mereka memandang sebelah mata apa yang diperbuat oleh seorang dokter.
Tergolong saat dokter itu berusaha menangani pasien yang sedang membutuhkan pertolongan.
Kesalahpahaman, serta ketidaksabaran keluarga pasien kadang menjadi pemicu faktor itu semua.
Itu semacam yang terjadi baru-baru ini.
Cocoknya, di Sampang, Madura.
Seorang dokter hamil berinisial S di RSUD Sampang dianiaya oleh keluarga pasien.
Hal itu kemudian menjadi perhatian khusus IDI (Ikatan Dokter Indonesia).
Hal ini disampaikan Poernomo Boedi S, dokter Sp PD, Ketua Umum IDI Wilayah Jawa Timur pada Prencon di Kantor IDI Jatim, Jalan Moestopo 117, Surabaya, Jumat (3/11/2017).
Pihaknya menegaskan kekerasan semacam itu (menjambak dokter – berdasarkan kamera cctv) tak butuh diperbuat.
“Sejatinya semua dokter ingin pasiennya sembuh. Sehingga perbuatan ini sangat
disayangkan,” tuturnya.
Menurut kronologi kejadian kata Poernomo, sebelum kekerasan terjadi, dokter yang sedang hamil 18 Minggu itu berbicara pada keluarga bahwa dapat mencari dokter lain apabila tak puas.
“Semacamnya terjadi miskomunikasi, keluarga merasa penanganannya lama sebab saat itu dokter bertanya-tanya terlebih dahulu terhadap pasien. Mungkin kasihan terhadap pesien yang telah merasakan kesakitan kok ditanya-tanya. Mungkin mereka tak paham bahwa itu telah sesuai prosedur,” jelas Poernomo.
Prosedur penanganan pasien pasien juga dipertegas oleh dr Edi Suyanto SpF Ketua Badan Hukum Pembinaan serta Pembelaan Anak buah (BHP2A).
Menurutnya setiap dokter punya prosedur tindakan, ini pun bedasarkan kondisi pasien.
“Waktu itu pasien datang ke IGD dengan keluhan nyeri berat di area punggung. Prosedurnya dokter terlebih dahulu bertanya terhadap pasien alias keluarga, terkait hal-hal yang berhubungan dengan keluhan yang dirasakan,” katanya.
Selanjutnya dokter menganalisa, kemudian dilanjutkan assessment alias perbuatan (penanganan).
“Baru seusai itu ada planning, alias perawatan tambahan. Sehingga terbukti tak dapat langsung, kecuali dirinya datang luka bacok berdarah-darah, dokter telah tentu tahu apa yang harus diperbuat,” jelasnya.
Dalam kontrak terapetik alias kedokteran, lanjut Edi masing-masing pasien serta dokter punya hak serta keharusan. Pasien juga harus bersabar dokter pundemikian, segala bentuk kekerasan tak sempat dibenarkan.
“Dokter punya hak untuk memutus sebuahkontrak ketika pasien tak koperatif. Tapi itu sebetulnya tak dianjurkan,” tambahnya.
Seusai tindak kekerasan ini IDI Jatim memberbagi ruang terhadap dr. S, yang juga berasal dari Madura untuk seenjoynya.
Mengingat tugasnya sebagai dokter internship yang tak dapat memilih tempat tugasnya sendiri.
Sebab, melewati tangan seorang dokter kadang nyawa seseorang dapat terselamatkan.
Tidak hanya itu, dokter pulalah yang seolah menjadi pintu bagi kelahiran bayi-bayi baru.
Sayang, kadang ada sejumlah orang yang tak lebih mengang menghargai jasa seorang dokter.
Mereka memandang sebelah mata apa yang diperbuat oleh seorang dokter.
Tergolong saat dokter itu berusaha menangani pasien yang sedang membutuhkan pertolongan.
Kesalahpahaman, serta ketidaksabaran keluarga pasien kadang menjadi pemicu faktor itu semua.
Itu semacam yang terjadi baru-baru ini.
Cocoknya, di Sampang, Madura.
Seorang dokter hamil berinisial S di RSUD Sampang dianiaya oleh keluarga pasien.
Hal itu kemudian menjadi perhatian khusus IDI (Ikatan Dokter Indonesia).
Hal ini disampaikan Poernomo Boedi S, dokter Sp PD, Ketua Umum IDI Wilayah Jawa Timur pada Prencon di Kantor IDI Jatim, Jalan Moestopo 117, Surabaya, Jumat (3/11/2017).
Pihaknya menegaskan kekerasan semacam itu (menjambak dokter – berdasarkan kamera cctv) tak butuh diperbuat.
“Sejatinya semua dokter ingin pasiennya sembuh. Sehingga perbuatan ini sangat
disayangkan,” tuturnya.
Menurut kronologi kejadian kata Poernomo, sebelum kekerasan terjadi, dokter yang sedang hamil 18 Minggu itu berbicara pada keluarga bahwa dapat mencari dokter lain apabila tak puas.
“Semacamnya terjadi miskomunikasi, keluarga merasa penanganannya lama sebab saat itu dokter bertanya-tanya terlebih dahulu terhadap pasien. Mungkin kasihan terhadap pesien yang telah merasakan kesakitan kok ditanya-tanya. Mungkin mereka tak paham bahwa itu telah sesuai prosedur,” jelas Poernomo.
Prosedur penanganan pasien pasien juga dipertegas oleh dr Edi Suyanto SpF Ketua Badan Hukum Pembinaan serta Pembelaan Anak buah (BHP2A).
Menurutnya setiap dokter punya prosedur tindakan, ini pun bedasarkan kondisi pasien.
“Waktu itu pasien datang ke IGD dengan keluhan nyeri berat di area punggung. Prosedurnya dokter terlebih dahulu bertanya terhadap pasien alias keluarga, terkait hal-hal yang berhubungan dengan keluhan yang dirasakan,” katanya.
Selanjutnya dokter menganalisa, kemudian dilanjutkan assessment alias perbuatan (penanganan).
“Baru seusai itu ada planning, alias perawatan tambahan. Sehingga terbukti tak dapat langsung, kecuali dirinya datang luka bacok berdarah-darah, dokter telah tentu tahu apa yang harus diperbuat,” jelasnya.
Dalam kontrak terapetik alias kedokteran, lanjut Edi masing-masing pasien serta dokter punya hak serta keharusan. Pasien juga harus bersabar dokter pundemikian, segala bentuk kekerasan tak sempat dibenarkan.
“Dokter punya hak untuk memutus sebuahkontrak ketika pasien tak koperatif. Tapi itu sebetulnya tak dianjurkan,” tambahnya.
Seusai tindak kekerasan ini IDI Jatim memberbagi ruang terhadap dr. S, yang juga berasal dari Madura untuk seenjoynya.
Mengingat tugasnya sebagai dokter internship yang tak dapat memilih tempat tugasnya sendiri.